
TL;DR
Musi Rawas adalah kabupaten di Sumatera Selatan dengan luas 6.350,10 km² dan penduduk sekitar 425.150 jiwa (2024). Ibu kotanya di Muara Beliti, pindah dari Lubuklinggau yang sudah jadi kota otonom sejak 2001. Ekonominya bertumpu pada perkebunan karet dan kelapa sawit, dengan sektor pertanian menyumbang lebih dari 30% PDRB. Kabupaten ini juga punya potensi wisata alam seperti Danau Aur, Air Terjun Curug Panjang, dan Bukit Botak.
Kalau Anda menelusuri jalan lintas Sumatera dari Palembang ke arah barat, Musi Rawas adalah salah satu kabupaten yang wilayahnya membentang luas di sepanjang hulu Sungai Musi dan Sungai Rawas. Bukan kabupaten kecil: luasnya lebih dari 6.300 km², hampir setara dengan luas Provinsi Bali. Tapi di luar Sumatera Selatan, namanya jarang muncul dalam perbincangan nasional, meskipun daerah ini punya sejarah kolonial yang panjang, perkebunan karet terbesar di provinsinya, dan destinasi wisata alam yang baru mulai terkelola serius dalam beberapa tahun terakhir. Berikut profil lengkap Kabupaten Musi Rawas, mulai dari geografi, sejarah, ekonomi, hingga potensi wisatanya.
Letak Geografis dan Wilayah Administratif Musi Rawas
Musi Rawas adalah kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan yang terletak di bagian barat provinsi tersebut, di hulu Sungai Musi dan sepanjang aliran Sungai Rawas. Menurut situs resmi Pemkab Musi Rawas, kabupaten ini membentang pada koordinat 102°07’–103°40′ BT dan 02°20’–03°38′ LS, dengan ketinggian wilayah antara 25 sampai 1.000 meter di atas permukaan laut. Topografinya beragam, dari dataran rendah di timur hingga perbukitan di sisi barat yang berbatasan langsung dengan Provinsi Bengkulu.
Ibu kota kabupaten ini adalah Muara Beliti. Secara administratif, Musi Rawas terdiri dari 14 kecamatan, 186 desa, dan 13 kelurahan. Batas wilayahnya: di utara berbatasan dengan Kabupaten Musi Rawas Utara, di timur dengan Kabupaten Musi Banyuasin dan Muara Enim, di selatan dengan Kabupaten Empat Lawang, serta di barat dengan Provinsi Bengkulu dan Kota Lubuklinggau.
Luas wilayah Musi Rawas saat ini adalah 6.350,10 km². Angka ini sudah berkurang dari luas awal sebelum pemekaran, karena sebagian wilayahnya kini menjadi Kabupaten Musi Rawas Utara dan Kota Lubuklinggau.
Sejarah Musi Rawas: Dari Keresidenan Palembang hingga Pemekaran
Akar sejarah Musi Rawas bisa ditelusuri ke masa keresidenan Palembang di bawah pemerintahan Belanda (1825–1966). Setelah Kesultanan Palembang jatuh, Belanda menata ulang daerah hulu Palembang dengan sistem dekonsentrasi. Musi Rawas masuk ke dalam wilayah Afdeling Palembangsche Boven Landen yang berpusat di Lahat.
Tahun 1907, dua onder district yaitu Muara Beliti dan Muara Kelingi digabung menjadi satu Onder Afdeling Musi Ulu. Lalu pada 1933, Belanda membuka jalur kereta api Palembang–Lahat–Lubuklinggau. Pembukaan jalur ini menggeser pusat aktivitas ekonomi ke Lubuklinggau, sehingga ibu kota Onder Afdeling dipindahkan dari Muara Beliti ke sana.
Saat Jepang menduduki Lubuklinggau pada Februari 1942, mereka mengubah struktur pemerintahan dan nama jabatan ke dalam bahasa Jepang. Onder Afdeling Musi Ulu berubah menjadi Musi Kami Gun. Perubahan pada 20 April 1943 inilah yang ditetapkan sebagai titik tolak Hari Jadi Kabupaten Musi Rawas.
Dua Kali Pemekaran
Musi Rawas mengalami dua kali pemekaran besar. Pertama, Kota Lubuklinggau resmi berpisah menjadi kota otonom pada 2001 berdasarkan UU Nomor 7 Tahun 2001. Karena ibu kota kabupaten ikut lepas, pusat pemerintahan Musi Rawas dipindahkan kembali ke Muara Beliti pada 2005 lewat Keputusan DPRD Nomor 08 Tahun 2004.
Pemekaran kedua terjadi pada 2013, ketika tujuh kecamatan di bagian utara kabupaten membentuk Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) berdasarkan UU Nomor 16 Tahun 2013. Proses pemekaran ini tidak berjalan mulus. Pada April 2013, ribuan warga dari berbagai kecamatan memblokade Jalan Lintas Sumatera di Muara Rupit untuk menuntut percepatan pembentukan kabupaten baru. Bentrokan terjadi, menewaskan empat warga sipil. Baru setelah tragedi itu, proses pengesahan di DPR RI dipercepat dan Muratara resmi berdiri pada Juni 2013.
Penduduk dan Data Kependudukan
Menurut data BPS yang dipublikasikan Katadata, penduduk Kabupaten Musi Rawas pada 2024 tercatat sekitar 425.150 jiwa. Angka ini meningkat stabil dalam tiga tahun terakhir dengan laju pertumbuhan sekitar 0,97% per tahun.
Mayoritas penduduk (sekitar 65,75%) berada di usia produktif 15–59 tahun. Tingkat pengangguran terbuka di Musi Rawas tergolong rendah, hanya 1,94% pada 2024, jauh di bawah rata-rata nasional. Ini tidak mengejutkan mengingat sebagian besar penduduk bekerja di sektor pertanian dan perkebunan, yang memang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Ekonomi Musi Rawas: Karet, Sawit, dan Padi
Musi Rawas adalah kabupaten agraris. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 30,83% terhadap PDRB kabupaten ini. PDRB per kapita atas dasar harga berlaku pada 2024 mencapai Rp61,86 juta, naik dari Rp57,71 juta pada tahun sebelumnya.
Komoditas utama yang menggerakkan ekonomi di sini adalah karet. Musi Rawas memiliki salah satu lahan karet terluas di Sumatera Selatan, dengan sebagian besar dikelola oleh petani rakyat. Setiap pagi sebelum matahari tinggi, penyadap karet sudah berangkat ke kebun karena lateks mengalir paling baik saat udara masih sejuk. Bagi banyak keluarga di Musi Rawas, karet bukan sekadar komoditas, tapi sumber penghidupan yang sudah turun-temurun.
Kelapa sawit menjadi komoditas kedua yang terus berkembang. Banyak warga terlibat dalam skema kemitraan inti-plasma bersama perusahaan perkebunan, menjual Tandan Buah Segar (TBS) ke pabrik pengolahan CPO. Selain itu, lahan pertanian padi juga cukup luas. Musi Rawas bahkan pernah mencatat surplus beras puluhan ribu ton per tahun, menjadikannya salah satu lumbung pangan Sumatera Selatan.
Tantangan utama bagi petani di sini adalah fluktuasi harga komoditas global, terutama karet. Ketika harga karet dunia turun, sebagian petani beralih ke kelapa sawit yang nilainya lebih stabil. Tren alih fungsi lahan dari karet ke sawit ini bukan hanya terjadi di Musi Rawas, tapi merupakan fenomena umum di seluruh Sumatera.
14 Kecamatan di Kabupaten Musi Rawas
Setelah pemekaran Musi Rawas Utara pada 2013, wilayah Kabupaten Musi Rawas terdiri dari 14 kecamatan. Berikut daftarnya:
- Muara Beliti (ibu kota kabupaten)
- Muara Kelingi
- Muara Lakitan
- Megang Sakti
- Tugumulyo
- Purwodadi
- Jayaloka
- Suku Tengah Lakitan Ulu Terawas (STL Ulu Terawas)
- Selangit
- Sumber Harta
- Sukakarya
- Tiang Pumpung Kepungut
- Tuah Negeri
- Bulang Tengah Suku Ulu
Kecamatan dengan aktivitas ekonomi paling padat umumnya berada di sekitar jalur lintas Sumatera, seperti Muara Beliti, Tugumulyo, dan Megang Sakti. Sementara kecamatan seperti Muara Lakitan dan Bulang Tengah Suku Ulu punya karakter lebih pedesaan dengan akses yang relatif lebih terbatas.
Destinasi Wisata Alam di Musi Rawas
Kabupaten Musi Rawas belum sepopuler destinasi wisata lain di Sumatera Selatan seperti Pagar Alam atau Lubuklinggau. Tapi dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah mulai mengelola beberapa objek wisata alam yang sebelumnya hanya dikenal warga lokal. Berikut beberapa yang layak diketahui.
Danau Aur
Danau Aur terletak di Desa Sumberharta, Kecamatan Sumber Harta, sekitar 30 menit dari Muara Beliti. Luasnya kurang lebih 40 hektar. Danau ini diresmikan ulang sebagai destinasi wisata pada Maret 2024 oleh Bupati Ratna Machmud. Pengunjung bisa menikmati rumah makan terapung yang beroperasi di atas danau, wahana air, dan area pemancingan. Tiket masuk Rp5.000 per orang, buka setiap hari pukul 08.00–17.00 WIB.
Air Terjun Curug Panjang
Air Terjun Curug Panjang berada di Desa Durian Remuk, Kecamatan Muara Beliti. Uniknya, air terjun ini bukan jatuh dari tebing curam, melainkan mengalir sepanjang kurang lebih 40 meter melewati cerukan bebatuan besar dengan ketinggian sekitar 4 meter. Tampilannya menyerupai sungai yang terbelah, sehingga beberapa orang menjulukinya “Mini Niagara”. Area kolam di bawahnya cukup aman untuk berenang dan sudah dilengkapi kamar ganti.
Bukit Botak dan Batu Sembilan
Bukit Botak terletak di Kecamatan STL Ulu Terawas, dengan ketinggian lebih dari 250 mdpl. Pendakiannya hanya memakan waktu sekitar 20 menit, cocok untuk pendaki pemula. Di puncaknya terdapat formasi batu yang dikenal sebagai Batu Sembilan, menjadi spot favorit untuk foto dan camping. Tiket masuk Rp30.000 per orang.
Selain tiga destinasi di atas, ada juga Danau Gegas di Kecamatan Sukakarya, Air Terjun Satan yang hanya 5 menit dari kompleks perkantoran Pemkab Musi Rawas, dan Desa Wisata Srimulyo yang menawarkan pengalaman keberagaman budaya dalam satu desa.
Perbedaan Musi Rawas dan Musi Rawas Utara
Karena namanya mirip, banyak orang keliru membedakan Kabupaten Musi Rawas (sering disingkat “Mura”) dengan Kabupaten Musi Rawas Utara (disingkat “Muratara”). Keduanya memang satu rumpun, tapi sudah menjadi dua kabupaten terpisah sejak 2013.
| Aspek | Musi Rawas | Musi Rawas Utara |
|---|---|---|
| Ibu kota | Muara Beliti | Muara Rupit |
| Jumlah kecamatan | 14 | 7 |
| Luas wilayah | 6.350,10 km² | 6.008,55 km² |
| Tahun berdiri mandiri | Sejak masa kolonial | 2013 (pemekaran) |
| Komoditas unggulan | Karet, kelapa sawit, padi | Batubara, karet, kelapa sawit |
Muratara punya potensi tambang yang lebih besar (batubara, emas, minyak dan gas bumi), sementara Musi Rawas lebih dominan di sektor perkebunan dan pertanian. Secara geografis, Muratara berada di bagian utara dan berbatasan langsung dengan Provinsi Jambi.
Akses dan Transportasi ke Musi Rawas
Untuk menuju Musi Rawas, jalur utama adalah melalui Jalan Lintas Sumatera yang menghubungkan Palembang dengan Lubuklinggau. Dari Palembang, jarak tempuh ke Muara Beliti sekitar 300 km atau kurang lebih 6–7 jam perjalanan darat. Alternatif lain adalah naik kereta api dari Palembang ke Lubuklinggau (jalur kereta yang sudah ada sejak era kolonial Belanda tahun 1933), lalu melanjutkan perjalanan darat sekitar 30 menit ke Muara Beliti.
Bandara terdekat adalah Bandara Silampari di Lubuklinggau, meskipun jadwal penerbangan komersialnya masih terbatas. Untuk perjalanan udara rutin, kebanyakan orang menggunakan Bandara SMB II Palembang.
Arah Pembangunan Musi Rawas ke Depan
Pemerintah Kabupaten Musi Rawas di bawah Bupati Hj. Ratna Machmud (menjabat sejak 2021, terpilih kembali pada Pilkada 2024) mengusung visi “Musi Rawas Maju, Mandiri, Bermartabat, Berkelanjutan” yang disingkat MANTABKAN. Dalam dokumen RPJMD 2025–2029, ada sembilan program prioritas yang mencakup pendidikan dan seragam gratis, kesehatan gratis dan ambulans desa, beasiswa pendidikan tinggi, revitalisasi pertanian, serta pengembangan usaha mikro dan kecil.
Salah satu isu strategis yang disorot adalah transformasi ekonomi dari ketergantungan pada komoditas mentah ke pengolahan yang punya nilai tambah lebih tinggi. Selama ini, karet dan sawit dari Musi Rawas sebagian besar diekspor dalam bentuk bahan mentah. Jika pengolahan bisa dilakukan di dalam kabupaten, dampaknya terhadap lapangan kerja dan pendapatan daerah akan jauh lebih besar.
Musi Rawas mungkin belum sering masuk radar nasional, tapi kabupaten ini punya fondasi yang kuat: lahan pertanian subur, sumber daya alam yang beragam, dan posisi geografis di jalur lintas Sumatera. Bagi siapa pun yang ingin memahami karakter daerah agraris di Sumatera Selatan, Musi Rawas adalah contoh yang layak dipelajari.